Tampilkan postingan dengan label LIFE STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIFE STORY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

Mixer Baru dari Ayah

Sore itu Ayah datang lebih awal dari biasanya. Dan saya melihat ada bungkusan plastik hitam yang tergantung di motor. "Ayah bawa apa?", tanya saya. Tapi si Ayah senyum-senyum aja, ga menjawab. Saat itu saya berpikir si Ayah ini kayanya  lagi laper sampai males jawab pertanyaan saya. Saya pun segera menyiapkan makanan untuk Ayah. Dan saat saya bersiap di dapur tiba-tiba Ayah memberikan sebuah kotak. Karena kotaknya ga dibungkus saya pun langsung bisa menebaknya. Ada gambar mixer pada kardus kotak tersebut.

Hore...ahirnya saya punya mixer :-) . Senang sekali dapat hadiah sore-sore dari Ayah. Sudah lama saya ingin sekali beli mixer tapi kalo lihat harga di online shop masih maju mundur belinya. Karena saat ini masih banyak pengeluaran yang harus dipersiapkan. Tapi keinginan baking tetap ada meskipun ga punya mixer :-) . Alhasil saya pun sering gagal mengeksekusi resep-resep cake dan roti. Meskipun sudah menggunakan metode water roux tetap saja hasilnya bantat :-( . Tapi yang namanya hasil eksekusi wajib dihabiskan dan ahirnya si Ayah pun menjadi korban resep-resep saya haha.... Mungkin si Ayah kasihan melihat saya bolak-balik gagal bikin kue atau juga tidak mau lagi menjadi korban resep gagal saya haha.... ahirnya dibelikanlah saya mixer :-) .

Setelah punya mixer artinya saya tidak punya alasan untuk gagal baking lagi. Dan ternyata alhamdulillah setelah mengeksekusi beberapa resep cake hasilnya memuaskan :-) . Cuma untuk roti belum coba lagi, masih antri resep-resep yang ingin saya eksekusi. Punya mixer baru membuat saya jadi "kemaruk" kalo dalam bahasa indonesia apa ya...  Intinya sekarang saya suka pake mixer, apa-apa di mixer :-) . Hampir setiap hari saya membuat kudapan tentunya menggunakan bahan-bahan yang harus dimixer :-) .

Senangnya bisa bikin kudapan sehat rumahan untuk keluarga... Saya senang, Ayah dan Syafa pun senang. Trima kasih ayah.....

Senin, 21 September 2015

Full Time Mom vs Working Mom

Menjadi seorang Ibu adalah suatu pilihan....
1. Memilih untuk siap mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk keluarga
2. Memilih untuk siap menjadi contoh yang yang baik bagi anak-anak kita
3. Memilih untuk menjadi seorang pribadi yang super sabar dalam mendidik dan membesarkan buah hati
4. Memilih untuk merelakan waktu kita dan mengutamakan waktu bersama buah hati
5. etc

Jika melihat point-point diatas, rasanya diri ini masih jauh dari sikap seorang ibu yang sempurna.... semoga bisa menjadi lebih baik lagi...Amiin
Setiap wanita pasti menginginkan menyandang gelar tersebut. Gelar yang sangat membanggakan meskipun dibandingkan dengan gelar-gelar tingkat pendidikan apapun dan walaupun harus bergulat dengan segala konsekuensinya.


Do you want to be a Full Time Mom or a Working Mom ? Which one the best ?
Seringkali pertanyaan itu mengusik pikiran para ibu muda, tak terkecuali saya. Dan saat ini saya pun sudah bisa merasakan menjadi keduanya :-) . Bagaimana rasanya? apa bedanya? Menurut saya keduanya sama-sama memiliki konsekuensi yang harus diterima dan dijalankan.

Tak ada yang salah dengan seorang ibu yang bekerja, bahkan kita patut mengacungi jempol. Walaupun mencari nafkah bukanlah tugas utama seorang wanita, namun tidak ada salahnya jika seorang ibu dapat menunjang perekonomian keluarga. Tentunya dalam batas-batas tertentu tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. Setiap wanita juga memiliki kelebihan yang berbeda-beda, seorang ibu A tidak bisa disamakan dengan ibu B dalam memanajemen waktu bagi keluarganya. Ada seorang ibu yang meskipun bekerja namun tetap bisa melaksanakan segala tugas rumah tangga nya tanpa bantuan ART. Namun bukan berarti jika seorang ibu yang menggunakan jasa ART adalah seorang ibu yang tidak peduli pada keluarganya. Saya yakin setiap ibu pasti menginginkan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga dengan caranya dan kelebihannya masing-masing.

Saat sebelum menikah, saya masih menjunjung tinggi idealisme saya. Saat itu saya masih bekerja pada sebuah perusahaan perbankan dengan load aktivitas yang tinggi. Hampir setiap hari saya meninggalkan kantor antara pukul 19.00-20.00. Saat itu saya merasa tidak ada masalah, meskipun saya nanti telah menikah, saya tetap akan bekerja pada perusahaan tersebut. Ya... saat itu yang saya pikirkan adalah karir yang telah saya rintis selama beberapa tahun, tentunya akan sangat sayang sekali jika saya tinggalkan. Apalagi saya merasa untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya telah berencana jika saya menikah dan memiliki anak, saya akan menggunakan jasa ART untuk membantu saya seperti yang teman-teman saya lakukan. Toh mereka enjoy-enjoy saja (walaupun sebenanya saat itu saya tidak tahu bagaimana perasaan mereka saat meninggalkan buah hati mereka saat bekerja).

Mendekati hari H pernikahan, ibu meminta saya untuk resign dan mengusulkan untuk memlih pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu. Tentu saja saat itu saya menolak dengan mengemukakan beberapa alasan. Ibu memberi gambaran bahwa jika saya nanti telah menjadi seorang ibu, apakah saya bisa membagi waktu untuk keluarga, bagaimana nanti saya dapat mendidik anak-anak jika sebagian besar waktu saya habiskan di kantor. Meskipun dengan berat hati akhirnya saya pun mengikuti nasehat ibu, saya mengajukan pengunduran diri sesuai dengan permintaan ibu.

Setelah saya menikah dan memiliki seorang anak, baru saya bisa memahami arti seorang ibu. Saat itu status saya adalah sebagai ibu pekerja di sebuah instansi pemerintah daerah. Saat masa cuti melahirkan berakhir, berat sekali rasanya hati ini untuk kembali beraktivitas ke kantor. Rasanya ingin sekali membawa Syafa kecil ikut ngantor juga. Walaupun begitu ini adalah konsekuensi yang harus saya ambil dengan memilih menjadi seorang ibu bekerja. Tentunya sebagai ibu bekerja, saya tidak dapat leluasa melakukan breastfeeding. Jika saya sedang bekerja, Syafa kecil hanya bisa minum ASIP dengan sendok. Ini juga salah satu konsekuensi yang harus saya pilih. Walaupun bekerja, tentunya saya tetap ingin memberikan asupan yang terbaik untuk Syafa. Tiap hari saya memerah ASI di kantor untuk persediaan Syafa jika saya sedang tidak di rumah. Jadi teringat perjuangan seorang teman saat masih bekerja di perusahaan swasta. Saat itu di kantor kami belum ada kulkas , jadi teman saya selalu menyempatkan pulang saat istirahat untuk memberikan ASI pada bayinya. Itu pun tidak bisa berlama-lama karena sering ditegur pimpinan untuk tidak pulang saat istirahat apalagi sampai melewati jam istirahat. Hingga pada suatu hari teman saya mengalami kecelakaan saat akan pulang untuk memberikan ASI nya. Saat itu kondisi nya sangat parah karena mengalami pendarahan di otak akibat benturan di kepala dan harus segera dioperasi. Dan alhamdulillah...atas ijin Allah teman saya dapat segera tertolong. Betapa besar perjuangan seorang ibu hingga bertaruh nyawa.

Saat Syafa sakit, tentunya saya juga tidak bisa terlalu sering ijin tidak masuk. Dan saya yakin kondisi ini yang paling menyedihkan bagi semua ibu bekerja. Saat anak sakit rasanya kita selalu ingin berada di samping si kecil agar saat dia butuh sesuatu kita segera sigap membantunya. rasanya tidak tega melihat si kecil dalam kondisi sakit. Kalo udah seperti ini, pikiran pun tak tenang bekerja. Teringat kembali pengalaman seorang teman saat masih bekerja di perusahaan swasta dengan peraturan yang super ketat. walaupun anak sakit tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak masuk kantor. Sampai-sampai teman saya selalu menangis selama di kantor, melayani nasabah pun dengan mata sembab. Ya... tapi itulah konsekuensi yang harus dipilih. Dan saya pun harus bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Nasihat seorang ibu memang luar biasa....  saya pun baru bisa menyadari nya sekarang, trima kasih ibuku....

Namun dibalik konsekuensi itu semua tentunya ada kebaikan dan kelebihan seorang ibu bekerja. Saya pun dibesarkan dari seorang ibu yang bekerja. Banyak segi positif yang dapat saya ambil dari sosok ibu saya yang mudah-mudahan dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya :
1. Terbiasa mandiri
Karena ibu tidak dapat sepanjang hari menemani anak-anaknya, mereka jadi terbiasa mengerjakan segala keperluannya sendiri. Hal ini akan membuat anak-anak tidak terbiasa mengandalkan atau bergantung pada orang lain.
2. Disiplin
Setiap pagi ibu bekerja dituntut untuk berangkat tepat waktu, dan ini terbawa juga kepada anak-anaknya. Anak-anak tentunya juga harus bangun pagi karena bagaimanapun juga ibu akan memastikan anak-anaknya telah mandi dan sarapan sebelum berangkat ke kantor. Sesibuk apa pun, seorang ibu akan bangun lebih pagi untuk membuatkan sarapan untuk anak-anaknya.
3. Lebih tahan dalam menghadapi masalah
Life is never flat. Seorang ibu bekerja tentu banyak bertemu orang dengan berbagai karakter. Banyak menghadapi permasalahan dalam aktivitas kerjanya. Bertemu dengan orang yang suka atau yang tidak suka dengan diri kita. Hal ini membuat si ibu bekerja akan lebih tahan dalam menghadapi masalah. Dan anak-anak pun juga akan melihat dan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
4. Memiliki manajemen waktu yang baik
Seorang ibu bekerja akan dituntut untuk dapat membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga tanpa harus menelantarkan salah satunya. Hal ini akan membuat Si Ibu untuk bekerja seefisien dan semaksimal mungkin di kantor sehingga mengurangi lembur atau membawa pekerjaan ke rumah. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi prestasi kerja di kantor. Begitu pula saat di rumah, Si Ibu akan berusaha semaksimal mungkin mencurahkan waktu untuk keluarga tanpa mengotak-atik pekerjaan kantor.
5. Tidak mudah putus asa
Dalam dunia kerja banyak hal-hal yang harus dicapai, tentunya hal ini membutuhkan usaha dan kemampuan. Dan untuk mencapai hal-hal tersebut seorang ibu bekerja tidak akan menyerah dengan suatu kegagalan karena sesuatu yang harus dicapai tersebut merupakan salah satu tuntutan pekerjaan. Sikap ini sedikit banyak akan berpengaruh dalam cara ibu mendidik si kecil.

Saat ini saya sedang menikmati tugas saya sebagai full time mom, kebetulan saya mengambil CLTN selama 3 tahun sampai Si Ayah amenyelesaikan pendidikannya (salah satu pilihan yang harus saya ambil demi kebersamaan bersama keluarga). Sungguh pengalaman yang tidak akan saya sia-siakan sampai saya kembali bekerja 3 tahun mendatang. Banyak peran seorang ibu yang dulu tidak bisa lakukan dan sekarang saya dapat melakukannya. Yang paling berharga untuk saya adalah dapat menemani anak saat sakit. Selain itu saya juga memiliki lebih banyak waktu bermain bersama Syafa, membersihkan rumah setiap pagi (hal yang jarang saya lakukan kecuali hari libur hehe...) , dapat mengeksekusi resep-resep yang sudah lama tersimpan :-) , membuat variasi menu makanan untuk Syafa yang termasuk si picky eater, termasuk lebih dalam menggeluti bisnis online dan mulai menulis lagi.

Kalau berbicara masalah capek, saya rasa sama saja antara full time mom vs working mom. Bahkan jam kerja seorang full time mom bisa melebihi jam kerja di kantor, mulai dari beberes rumah, antar jemput anak, menyapu, ngepel, ke pasar, mencuci, menyetrika, memasak, menidurkan anak, menemani anak belajar, dll (note : tentunya bagi IRT yang tidak menggunakan jasa ART ).  Hal ini kadang yang membuat para full time mom merasa jenuh dan bosan dengan aktivitas sehari-harinya. Jika seorang ibu bekerja masih bisa keluar rumah dan sejenak meninggalkan rutinitas rumah tangga, berbeda dengan seorang ibu rumah tangga yang hanya dihadapkan dengan rutinitas rumah tangga. Karena itu seorang full time mom juga membutuhkan me time agar pikiran lebih fresh sehingga dapat melaksanakan aktivitas sehari-harinya dengan hati senang.

Menjadi seorang ibu rumah tangga merupakan suatu pilihan yang juga patut diacungi jempol. Tetapi bukan berarti sebagai ibu rumah tangga kita hanya berdiam diri di rumah dan menjadi ibu-ibu berdaster yang hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga saja. Banyak kegiatan positif bisa kita lakukan dari rumah yang dapat membuat kita menjadi lebih produktif. Sebenarnya kegiatan yang dilakukan tidak harus menghasilkan namun setidaknya bisa membuat kita merasa enjoy, menambah wawasan dan menambah teman. Nah kegiatan-kegiatan ini juga dapat dimasukkan dalam daftar kegiatan me time bunda.....  Apa saja ya kegiatan positif yang dapat kita lakukan ?
1. Membuka Online shop
Sekarang ini shopping tidak harus dilakukan dengan pergi ke mall, cukup lewat gadget kita dapat hunting barang-barang yang kita inginkan. Banyak orang yang tidak sempat berbelanja offline, mereka lebih memilih berbelanja online. Bisnis ini sangat menyenangkan, dan cukup menjanjikan. Bunda juga tidak perlu seharian menunggu toko, cukup dijalankan dari rumah saja.
2. Menulis
Saat seorang diri di rumah dan tidak melakukan hal apapun akan membuat seorang ibu menjadi bosan. Kesempatan ini dapat digunakan untuk mencurahkan segala ide yang ada di dalam pikiran menjadi sebuah tulisan. Kegiatan ini selain dapat melepaskan uneg-uneg dan kejenuhan juga dapat membuat bunda menjadi lebih kreatif. Bahkan dari kegiatan menulis ini dapat menghasilkan sebuah karya.
3. Membaca
Selepas mengantar anak sekolah atau saat saat si kecil tidur, bunda dapat melakukan kegiatan yang menyenangkan ini. Membaca apa pun yang bunda suka akan membuat hati dan pikiran menjadi lebih fresh. Selain itu bunda juga akan mendapatkan berbagai informasi serta inspirasi dari kegiatan ini.
4. Perawatan Tubuh
Saat waktu senggang tidak ada salahnya bunda melakukan treatment ini. Sekedar luluran, masker atau massage dapat membuat tubuh menjadi lebih fresh. Treatment tidak harus dilakukan di salon, kita juga dapat melakukannya di rumah.
5. Kegiatan-kegiatan lain yang bunda sukai.

Jika kita selalu melihat rumput tetangga yang terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri tentu hidup kita tidak akan pernah tenang. Kalau kata orang jawa "sawang sinawang" , belum tentu kondisi seseorang yang kita lihat bahagia, ternyata juga memiliki masalah sendiri di dalamnya. Yang jelas setiap manusia memiliki pilihan dan masalah sendiri dalam hidupnya, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Full time mom or working mom , keduanya sama-sama mulia tinggal bagaimana kita dapat menerima dan menjalankan konsekuensi atas sesuatu yang kita pilih. Merasa bahagia dan bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan sangat memberikan dampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari yang tentunya akan berpengaruh dalam cara kita mendidik anak. Yang terpenting apapun profesi kita, prioritas utama kita tetap memberikan perhatian, kasih sayang dan memperhatikan perkembangan buah hati :-) .


Tulisan ini hanya sekedar coretan untuk saling berbagi dan reminder bagi diri sendiri, tidak ada maksud untuk menggurui atau merasa lebih baik karena masih banyak kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dan masih harus banyak belajar dari ibu-ibu lain yang lebih berpengalaman.
Semoga bermanfaat  :-)


Rabu, 12 Agustus 2015

Frozen Tart untuk Ayah

Assalamualaikum Wr Wb...

12 Agustus 2015
Selamat Hari Lahir Ayah....
Semoga Allah selalu memberikan barokah di sisa umur yang ada, dilimpahkan nikmat sehat, rejeki yang cukup dan dapat selalu bermanfaat untuk orang lain. Aamiin...

Sebuah kalimat ucapan yang saya kirim via BBM sebelum saya telepon pagi harinya. Ya..kebetulan hari ini Ayah mendapatkan jadwal jaga sehingga kami mengucapkan selamat dan doa via hp. Untuk mensyukuri nikmat Allah ini, keluarga kami biasanya mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah. Hari ini pun saya berencana untuk membuat nasi uduk untuk Ayah. Apalagi nanti disajikan saat Ayah pulang jaga, pas banget, pas laper....he....

Sehari sebelumnya, saya sudah berbelanja segala kebutuhan yang dibutuhkan sehingga hari ini tinggal memasaknya saja. Seusai mengantar Syafa ke sekolah, saya memulai aktivitas di dapur. Kali ini saya akan memasak Nasi Uduk, Sambal Goreng Telur Puyuh Ati, Bakmi Goreng, Tempe Mendoan dan Ayam Goreng plus Es Buah.

Selain itu saya dan Syafa sudah berencana untuk membeli sebuah kue untuk Ayah. Setelah selesai memasak, kami pun berangkat menuju toko kue. Kami pun memilih kira-kira kue yang mana yang Ayah suka. Saat masuk ke toko kue, pandangan kami langsung menuju ke etalase berbagai jenis tart. Syafa semangat sekali menuju etalase tersebut, dan segera memilih... Tanpa berpikir panjang pilihan Syafa jatuh pada sebuah Frozen Tart ??
Saya     : Nak ini kan untuk Ayah, masa dikasih frozen tart? Ayah kan cowok...
Syafa    : Kan ini juga ada pangerannya Ma... Pangerannya kan cowok...
Saya     : Yang ini aja ya (black forest) Ayah sukanya yang coklat...
Syafa    : Ga mau, Ayah juga suka kok yang pangeran frozen ini..

Oke lah Nak..kalau sudah begini ga bisa diganggu gugat..

Jadilah kami membeli frozen tart untuk Ayah...  :-)

Wassalamualaikum Wr Wb...

Senin, 10 Agustus 2015

Cerita Si "Roro Gendut"

Assalamualaikum Wr Wb....

Mendengarkan cerita adalah salah satu aktifitas kegemaran Syafa. Dimana pun dan kapan pun, Syafa seringkali minta dibacakan cerita. Saat perjalanan di bus, di dalam mobil, saat menunggu antrian bank, saat kami bertiga sedang bercengkrama, bahkan pernah saat di kamar mandi pun minta dibacakan cerita......  Ceritanya saat itu saya meminta Syafa untuk segera mandi agar tidak terlambat sekolah, karena pagi itu Syafa mulai menjalankan ritual berputar-putarnya dan menunda waktu untuk mandi. Dan akhirnya Syafa pun mau "mandi bersyarat". Syafa bilang mau mandi sambil dibacakan cerita.... Dan saya pun harus mengabulkan permintaannya karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.30.

Menjelang tidur adalah waktu wajib bagi Saya atau Ayah untuk membacakan cerita. Syafa tidak akan tidur jika belum dibacakan 2-3 cerita. Dan kami pun harus pandai berimprovisasi karena Syafa tidak mau dibacakan cerita yang sama. Malam itu Syafa pun bersiap tidur setelah cuci kaki dan gosok gigi. Setelah membaca doa sebelum tidur, doa untuk kedua orang tua dan doa selamat dunia akhirat Syafa pun mulai minta dibacakan cerita. Saat itu saya meminta Ayah untuk membacakan cerita karena saya sedang kehabisan bahan cerita. Karena kemarin sudah bercerita tentang Roro Mendut, kali ini Si Ayah menggantinya dengan cerita "Roro Gendut". Baru mendengar judulnya saja saya sudah tertawa terpingkal-pingkal. Dan saya pun sudah bisa menebak obyek dari cerita ini...he...

Cerita pun dimulai, kalau Roro Mendut minta dibuatkan 1000 candi, kali ini si "Roro Gendut" minta dibelikan 1000 tahu campur. Dari sini sudah bisa ditebak siapakah si "Roro gendut"? Yups it's me....hmm...  Saya pun hanya tertawa dalam hati mendengar cerita Si Ayah ditambah lagi kronologi cerita yang tidak nyambung karena Si Ayah mulai mengantuk. Biasanya jika mendengarkan cerita, Syafa selalu bertanya kenapa kok gini,kenapa kok gitu. Tetapi tidak untuk cerita si "Roro Gendut" ini.  Sejak awal cerita Syafa hanya diam mendengarkan, dan tiba-tiba..... "Hwa....hu...hu....", Syafa menangis. Kami pun bingung, kenapa Syafa tiba-tiba menangis.
Saya    : Kenapa Nak kok nangis....
Syafa   : Aku ga mau cerita yang gendut-gendut, aku takut....
Ayah    : Oalah.... lho tadi itu Roro Gendutnya itu yang jadi Mama kok...
Syafa   : Ga mau aku takut (sambil menangis)
Saya    : Ya udah sekarang tidur aja, baca doa lagi yuk biar ga takut...

Saat tengah malam tiba-tiba Syafa terbangun dan menagis, tidur nya pun gelisah. Saat pagi hari nya saya tanyakan :
Saya   : Syafa kenapa tadi malam kok nangis...
Syafa  : Aku mimpi buruk, mimpi yang gendut-gendut...

Oalah...ternyata cerita si "Roro Gendut" ini menakutkan bagi Syafa sampai terbawa mimpi. Tidak tahu juga seperti apa halusinasi Syafa tentang Roro Gendut ini. Tapi Syafa pernah bilang kalau seperti buto ijo. Dan sekarang setiap melihat sesuatu yang gendut, Syafa jadi takut walaupun itu hanya film kartun. Dan satu lagi setiap mau tidur,Syafa tidak mau dibacakan cerita oleh Ayahnya lagi. Menurut Syafa kalau Ayah yang cerita nanti jadi mimpi buruk. Yes..... kata si Ayah berbisik pada saya, artinya Si Ayah terbebas dari tugas mencari bahan cerita.

Satu pelajaran bagi kami, untuk selalu menyampaikan sesuatu yang baik-baik untuk anak,termasuk penyampaian kata-kata yang positif. Meskipun maksud dari cerita Roro Gendut ini untuk bercanda, tetapi ternyata si kecil mengartikannya berbeda.
Wassalamualaikum Wr Wb...

Senin, 03 Agustus 2015

Teka-Teki Berbaris Seperti Mujair ?????

Assalamualaikum Wr Wb...

Ayo ayo baris....
Ayo ayo baris....
Seperti MUJAIR....

Sepenggal lirik yang dinyanyikan Syafa pada suatu pagi. Saya dan suami pun saling berpandangan...
"Seperti mujair" kira-kira kosakata apa ya yang dimaksud "mujair" oleh Syafa???

Saya  : "Lho kok mujair Nak... apa betul gitu? Coba besok diperhatikan lagi Bu Guru bilangnya apa?".
Syafa  : "Iya Ma... kata Bu Guru gitu.." Ayo ayo baris, Ayo ayo baris, seperti mujair......
Dan Syafa pun kembali melantunkan lirik itu sambil berbaris. Saya pun membayangkan "mujair-mujair" itu berbaris rapi dengan berdiri diatas ekornya dan berjalan tegak layaknya pasukan baris-berbaris, hi...hi...  Teka-teki si "mujair" ini pun masih tersimpan. Saya dan suami juga belum bisa menemukan kosakata apa kira-kira yang dimaksud.

Hari ini adalah minggu kedua Syafa masuk sekolah. Semangatnya masih ok, saat diminta mandi, ganti baju dan sarapan, Syafa melakukannya dengan baik tanpa ritual putar-putar terlebih dahulu. Hanya saja saya tidak mengijinkan menonton TV pada pagi hari sebelum berangkat sekolah karena akan menghambat aktivitasnya.

Ok girl.... lets go to school....

Seperti biasa Sang Ibu Guru sudah menyambut di depan gerbang, Syafa pun segera salim dan bersiap untuk berbaris. Kali ini saya ingin sekali menunggu sampai Syafa selesai berbaris dan masuk kelas. Melihat tingkah polah anak kecil sangat lucu sekali. Ada yang tidak mau berbaris, ada yang sibuk bermain sendiri, ada pula yang minta ditemani orang tuanya. Menjadi seorang guru TK tentunya sangat tidak mudah, karena harus sabar dan telaten mendampingi anak-anak kecil dengan berbagai karakter. Sangat bangga padamu wahai Bapak dan Ibu Guru....

Sekarang semua anak telah siap berbaris sambil bernyanyi didampingi oleh Ibu Guru. Dan saya pun tidak asing dengan lagu yang dilantunkan anak-anak tersebut.

Ayo ayo baris.....
Ayo ayo baris.....
Seperti MUJAHID....

Ayo ayo baris.....
Ayo ayo baris.....
Seperti MUJAHIDAH....

Owh.....   kata yang langsung terucap dalam hati saya.
MUJAIR = MUJAHID ??????
Terungkap sudah teka-teki si "mujair" ha.....ha..... Mujahid adalah kosakata baru bagi Syafa. Jadi saat mendengarnya, Syafa menganalogikan dengan kosakata yang spellingnya hampir sama (mujahid vs mujair). Saya pun tersenyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju rumah.

Sekian dulu cerita hari ini, sampai bertemu pada cerita berikutnya.

Wassalamualaikum Wr Wb.....

Si Kecil Alergi ??

Assalamualaikum Wr Wb....

Uhuk..uhuk... terdengar suara batuk batuk Syafa. Segera saya menghampirinya, "Syafa tenggorokannya sakit ya..hidungnya buntu Nak?

Ya...saya selalu parno jika mendengar Syafa batuk-batuk. Meskipun kadang itu hanya batuk karena tersedak. Syafa meiliki alergi dari bayi. Munculnya alergi ini terlihat saat Syafa masih umur 2 hari saat dari Rumah Sakit diberikan susu formula. Muncul merah-merah di kedua pipi serta kelopak matanya sehingga wajahnya tampak sedikit bengkak. Kamipun segera berkonsultasi ke DSA. Ternyata menurut DSA nya, Syafa alergi protein susu sapi dan disarankan menggunakan susu hypoalergenik. Kamipun segera menghentikan pemberian susu formula dan hanya memberikan ASI. Alhamdulillah merah-merah di wajah Syafa mulai berkurang dan sembuh.

Ternyata pantangannya tidak sampai disitu saja, saat usia 3 bulan sering terdengar suara "grok..grok.." saat Syafa tidur dan hidungnya buntu sehingga mengganggu tidurnya. Awalnya saya kira Syafa terserang flu. Tapi setelah beberapa hari ternyata suhu badannya tetap normal dan tidak ada batuk ataupun ingus (maaf) yang keluar. Kamipun berkonsultasi kembali ke DSA. Penjelasan dari dokter ternyata ini karena ALERGI. Karena Syafa hanya mengkonsumsi ASI, saya disarankan untuk tidak mengkonsumsi susu sapi, daging ayam, telur,ikan laut, udang, kacang-kacangan. Yang boleh saya konsumsi daging sapi, tahu, tempe, sayuran. Dan untuk mengurangi hidung yang buntu, Syafa diberi cairan tetes hidung. Ok... demi Syafa saya ikuti semua saran dari DSA, saya mulai tidak mengkonsumsi makanan-makanan yang dilarang oleh DSA. Alhamdulillah.... suara grok-grok dan hidung buntu pun mulai hilang.

Saat Syafa berusia 6 bulan, saya mendapat panggilan untuk melaksanankan Prajabatan selama 21 hari sebagai persyaratan wajib bagi seorang CPNS agar bisa diangkat menjadi PNS. Tentunya hal ini membuat saya bimbang karena saya harus meninggalkan Syafa yang baru berusia 6 bulan. Tetapi saya juga tidak mungkin untuk meninggalkan kewajiban saya sebagai abdi negara.

Segala persiapan telah saya siapkan  untuk Syafasebelum saya berangkat ke tempat Prajabatan. Mulai dari persiapan ASIP serta obat-obatan jikalau Syafa sakit. Dulu masih jarang sekali yang menjual botol untuk menyimpan ASI sehingga saya pun membeli berpuluh-puluh UC1*** yang botolnya saya akan saya gunakan untuk menyimpan ASIP. Sebagian botol saya gunakan untuk stok ASIP di rumah,dan sebagian lagi saya bawa untuk menyimpan ASIP hasil pumping selama menjalani Prajabatan.

Ok... dan saya pun berangkat dengan berat hati hiks....

Selama masa Prajabatan, kami memiliki libur 2 kali yaitu hari minggu pada minggu pertama dan kedua. Tentunya kesempatan libur ini saya manfaatkan untuk pulangdengan membawa oleh-oleh ASIP untuk Syafa. Apalagi kata sang Ayah, Syafa sedang flu. Setelah sampai di rumah, Syafa langsung menyambut saya dan minta digendong serta langsung mencari sumber ASI nya. Saat itu saya mendengar suara nafas Syafa terasa berat sekali. Sang ayah pun bilang kalau Syafa sesak...  Karena belum paham tentang sesak nafas, saya kira sesaknya karena Syafa tidak bisa menegluarkan dahaknya. Tetapi menurut sang Ayah, Syafa sesak karena alerginya. Tentunya sang Ayah lebih paham karena genetik alergi Syafa juga diturunkan dari Sang Ayah yang juga alergi (asma).

O iya ta Ayah.... saya pun lagsung panik. Saya khawatir Syafa juga asma seperti Ayahnya. sang Ayah mengajak untuk membawa Syafa ke RS agar bisa di nebule. Setelah dinebule, Syafa mulai merasa nyaman, nafasnya juga tidak terlalu berat. Tetapi hal ini tidakberlangsung lama, 3 jam kemudian nafas Syafa terasa berat kembali  dan Syafa tidak bisa tidur serta terus menangis. Kamipun segera membawa Syafa ke RS lagi untuk dinebule. Hal ini berlangsung beberapa kali hingga dahaknya bisa keluar. Berdasarkan pengalaman ini, akhirnya kamipun membeli nebulizer sendiri supaya lebih mudah terutama saat bepergian. Syafa selalu mengalami sesak setiap kali flu, sampai pernah dirawat karena nafasnya sesak sekali hingga paru-parunya agak membesar.

Hal inilah yang membuat saya tiba-tiba panik jika mendengar Syafa batuk-batuk. Tetapi dengan semakin bertambahnya usia Syafa, sistem kekebalan tubuhnya juga semakin baik. Alhamdulillah.... saat ini Syafa juga sudah jarang terserang flu dan sesak nafas. Kalaupun flu, penggunaan nebulizernya juga sudah jarang. Biasanya hanya dua sampai tiga kali saja. Hal ini seperti yang telah dijelaskan oleh DSA nya bahwa kekebalan tubuh anak akan semakin membaik seiring bertambahnya umur. Sejak usia 1 tahun pun Syafa sudah bisa mengkonsumsi susu sapi, ikan laut, udang, dsb tanpa mengalami efek alergi seperti waktu bayi dulu. Hanya saja saat ini saya membatasi konsumsi makanan ber MSG, coklat dan permen. Karena berdasarkan pengalaman, jika Syafa telah mengkonsumsi makanan tersebut langsung batuk-batuk.

Sehat terus ya Sayang...love you...

Wassalamualaikum Wr Wb

Minggu, 02 Agustus 2015

Minggu Pertama Si Princess Masuk Sekolah

Assalamualaikum Wr Wb....

Selamat pagi moms... ini merupakan minggu pertama bagi siswa sekolah untuk memulai tahun ajaran baru. Anak-anak terlihat sangat bersemangat sekali terutama saat hari pertama masuk sekolah setelah sekitar 40 hari mereka libur sekolah. Wajah mereka ceria dengan tas dan sepatu barunya. Tak ketinggalan juga my lil princess... Saat hari pertama masuk sekolah sangat bersemangat sekali. Bangun pagi langsung menuju kamar mandi tanpa harus berputar-putar dahulu seperti ritual biasanya  :-) , kemudian memakai seragam barunya dengan rapi. Mamanyapun tak kalah sibuk, malam hari sudah saya siapkan semua keperluan sekolah Syafa dan pagi harinya segera saya siapkan sarapan dan bekal untuk Syafa.

Setelah siap, kamipun segera berangkat. Kelas masuk pukul 07.00 WIB, karena rumah kami dekat dengan sekolah, kamipun berangkat pukul 06.55. Sampai di gerbang sekolah, kamipun disambut oleh Ibu Guru yang sudah siap menunggu. Yes...dan Syafa pun segera salim dan masuk mengikuti Sang Ibu Guru, good job girl.... Alhamdulillah Syafa sudah tidak menangis lagi dan mau ditinggal. Karena saat malam harinya dia sudah berpesan : "Ma... besok aku ditungguin dulu ya 1 hari aja.. habis itu aku berani ditinggal...". Tapi ternyata ajakan sang Ibu Guru mengalahkan rasa takutnya he....

Sebenarnya ini bukan pertama kali Syafa menginjakkan kaki di sekolah, karena sebelumnya Syafa sudah masuk PlayGroup namun di Probolinggo. Dan sekarang Syafa sudah mulai masuk TK tetapi di tempat yang baru di Malang. Sehingga dia perlu beradaptasi lagi dengan lingkungan dan teman serta guru yang baru lagi. Satu lagi kesulitan Syafa disini adalah kurang memahami bahasa jawa sedangkan teman-temannya sebagian besar berbahasa jawa dalam kesehariannya, sehingga dia agak kesulitan untuk berkomunikasi bersama temannya.

Jadwal sekolah TK dimulai pukul 07.00-10.00 WIB. Sengaja saya datang menjemput lebih awal pukul 09.30, karena kalau terlambat khawatir Syafa menangis. Saya perhatikan dari jauh kegiatan Syafa di sekolah. Sepertinya hari pertama ini Syafa masih dalam tahap beradaptasi. Saya lihat Syafa selalu mengikuti kemanapun Ibu Guruya pergi. Dia selalu mendekati dan menggandeng tangan Ibu Gurunya he.... Ga pa pa nak, mungkin Syafa masih butuh proses untuk beradaptasi.

Hari kedua dan selanjutnya Syafa sudah mulai bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya. Dia sudah mulai bermain dan tertawa bersama temannya (meskipun mungkin Syafa masih bingung apa yang dibicarakan temannya he....). Tapi pastinya hal ini tidak akan berlangsung lama karena Syafa adalah anak yang cepat beradaptasi.

Semangat sayang.... love you

Wassalamualaikum Wr Wb